Home e-Warta Renungan Sepekan (read more…)

Renungan Sepekan (read more…)

by Alvin

Bahagiakah Keluargamu?

Dari 0-10 tingkat kebahagiaan dengan 10 nilai paling bahagia, berapa poin kebahagiaan keluarga saudara? Jika pertanyaan ini sulit, mari kita ganti dengan yang lebih simpel: “Apakah saudara bahagia di tengah keluarga?”

Ada yang mudah menjawabnya, sementara yang lain merasa complicated. Tingkat kebahagiaan dipengaruhi banyak faktor sehingga kebahagiaan menjadi relatif bagi setiap keluarga. Bahagia bagi suami belum tentu buat istri, begitu sebaliknya. Bahagia bagi anak belum tentu bagi orangtua, juga sebaliknya. Bahagia hari ini, belum tentu besok. Lalu apa tonggak utama untuk menyamakan pandangan seluruh keluarga?

Bagi individu lahir baru, salib itulah tonggak yang menerangi kehidupan keluarga. Jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain (1 Yoh.1:7). Persekutuan dengan anggota keluarga: adanya perhatian, kehangatan, penerimaan, dukungan, kesetiaan, dan seterusnya (saya yakin kita semua dapat meneruskan daftar ini karena adanya harapan akan persekutuan yang tulus, indah, dan bertumbuh).

Tetapi kita mendapati pada kenyataannya, baik diri kita maupun keluarga seringkali lupa dan tidak konsisten. Kita menambahkan poin lain, seperti: ego, malas, kurang rendah hati, mengandalkan emosi, ikut cara pandang duniawi, fokus pada uang, dan lain-lain. Efesus 4:22 merangkumnya sebagai kehidupan manusia lama kita yang dahulu, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan.

Tersesat, stuck, dan tidak bahagia otomatis menjadi kondisi banyak keluarga saat ini. Bersyukur, kita memiliki terang kasih Allah yang membaharui roh dan pikiran kita. Mari ingat akan status manusia baru kita, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef. 4:23-24).

Manusia –manusia baru dalam sebuah keluarga akan menghadirkan terang Allah dan mewujudkan keluarga bahagia. Meskipun adakalanya terjatuh, tetapi pengampunan memulihkan kembali. Kerendahan hati menggiring untuk saling mengaku dosa dan saling mendoakan. Terang manusia baru akan mengusir kegelapan dalam hati dan pikiran, menumbuhkan pengertian, kesabaran, dan buah-buah Roh lainnya.

by Ester Buntoro

Related Posts