Home e-Warta Renungan Sepekan (read more…)

Renungan Sepekan (read more…)

by Alvin

SAHABAT

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.
Amsal 17:17

Menaruh kasih setiap waktu… Waktu happy, tertawa bareng. Waktu bad mood, dimengerti. Waktu stres, ditenangkan. Waktu marahan, tidak mendendam. Waktu beda pendapat, saling toleransi. Waktu kesepian, mengorbankan diri untuk mendampingi. Dan waktu-waktu lainnya. Ada berapa macam ‘waktu’ telah saudara lakukan sebagai seorang sahabat buat orang lain? Ada berapa ‘waktu’ saudara mengalami kasih dari sahabat?

Bersyukur jika kita dapat dengan sukacita menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas. Tetapi jangan bersedih ketika kita mendapati ketika kita belum menjadi sahabat yang baik bagi orang lain, atau belum merasakan kasih dari seorang sahabat sedemikian. Hidup kita selalu diperhadapkan pada dilema antara kepentingan diri dan kepentingan orang lain. Kita sungguh-sungguh membutuhkan kasih Allah untuk memampukan kita mengasihi orang lain seperti diri sendiri.

Lepas dari dilema tersebut, sesungguhnya kita adalah orang-orang yang berbahagia karena kasih Allah senantiasa melingkupi dan memampukan kita. Perenungan berikutnya adalah, bersediakah kita berjuang untuk mewujudkannya? Ada banyak faktor yang mempengaruhi kondisi pertemanan dan persahabatan kita. Adanya perbedaan karakter, latar belakang, kesenangan, kepentingan, seringkali membuat persahabatan kita jatuh bangun. Dalam relasi pacaran, ada istilah putus ketika kedua individu tidak lagi menemukan kecocokan dan kemauan untuk meneruskan relasi. Tetapi dalam relasi pertemanan, kita tidak menggunakan istilah itu untuk menyatakan status kita. Paling-paling pada platform medsos, kita lakukan unfollow, atau tidak lagi berbicara dan berinteraksi dengan seseorang yang tidak ingin kita jadikan teman.

Sebagai Anak Allah, bagaimana kita menanggapi dilema dalam pertemanan? Amsal 17:17 tidak menjelaskan panjang lebar, tetapi memberikan makna yang dalam tentang seorang sahabat. Menaruh kasih tidak pandang waktu. Meski bukan keluarga atau pacar, seorang sahabat sangat dekat untuk menerima, memahami, menguatkan, dan membangun.

Dilandasi Firman Tuhan dan diterangi kasih Allah, kita akan memiliki hikmat dan kekuatan untuk menjadi sahabat dan memiliki sahabat melampaui dilema, kondisi, status, dan waktu.

Tuhan memberkati.

by Pdt. Ria Susanti

Related Posts