Home e-Warta Renungan Sepekan (read more…)

Renungan Sepekan (read more…)

by Alvin

Pekerja yang layak dihadapan Tuhan

Saya berada dalam sebuah tim kerja yang berisi orang-orang dengan karakteristik dan kepribadian yang sangat berbeda satudengan yang lain. Kami berempat bisa dibilang saling berada di titik-titik ekstrem dalam keberbedaan kami.

Saya sering mendapati meja kerja saya sangat rapih dan bersih, jauh lebih rapih dari waktu kemarin saya meninggalkannya. Salah satu dari rekan saya itu sulit untuk melihat ada hal-hal yang tidak SANGAT bersih dan rapi, sedangkan saya lebih suka kalau barang-barang yang saya perlukan mudah dijangkau.

Rekan yang lain mudah sekali meninggalkan barang-barangnya dimana saja. Baru saja kami selesai rapat untuk bersiap pergi makan siang bersama, di meja rapat terlihat dompetnya, sedangkan di meja area sosial nampak ponselnya. Setelah itu ia muncul sambil bertanya apakah kami melihat kunci motornya.

Yang lain lagi, begitu ada pertanyaan soal siapa yang akan bertanggung jawab atas suatu tugas, dengan cepat ia akan menyebut satu nama di antara kami bertiga lainnya, sebisa mungkin bukan dirinya. Strategi ini tentu tidak selalu berhasil buatnya.

Saya? Saya didapati oleh mereka terlalu sering keluar  mengerjakan tugas-tugas kami. Kami berempat ini dalam sebuah tim pelayanan. Menurut Anda, siapa di antara kami yang lebih berkenan di hadapan Tuhan?

Kepribadian kita mempengaruhi tingkah laku kita. Kepribadian kita, yang menjadikan kita unik, adalah salah satu sidik jari kreativitas Tuhan dalam menciptakan kita. Namun demikian, kadang kita menilai kepantasan seseorang melayani Tuhan berdasar karakteristik yang dipengaruhi oleh kepribadian tersebut, sehingga berpotensi mengesampingkan mereka dengan karakteristik yang kurang terstruktur, kurang rapih, dan tidak cukup ambisius misalnya.

Teks kita, 2 Tim 2:15 menunjukkan kepada kita bahwa kriteria pekerja yang berkenan di hadapan Tuhan berkaitan dengan kesungguhan kita untuk terus menerus mendorong dan menumbuhkan diri kita sebagai seorang yang matang, dan itu tak lepas dari caranya menempatkan diri di hadapan otoritas Firman Tuhan (lihat The Passion Translation). Demikian juga kita, ICF yang dipanggil sebagai ‘Mimetai’. Perlu masing-masing kita terus memadankan diri dengan Firman Tuhan apapun tipe kepribadian kita. Temukanlah cara dan keunikan kita masing-masing untuk terus menjadi semakin matang sebagai buah relasi kita dengan Tuhan dan pembacaan Kitab Suci. Dengan demikian, setiap kita bertumbuh secara otentik, unik, di hadapan Tuhan dan sesama orang percaya. Keunikan kita berharga dan berguna bagi pekerjaan Kerajaan Tuhan di bumi.

Tuhan Yesus memberkati

by Ev. Johan A. Santoso

Related Posts