Home e-Warta Renungan Sepekan (read more…)

Renungan Sepekan (read more…)

by Alvin

Loving  Your  Neighbor

Lukas 10:27

Di satu daerah dingin dan bersalju, hidup seorang bapak tua yang berdiri di tepi sungai yang airnya sudah mulai menjadi es, dan nampaknya bapak ini menyadari kalau begitu berbahanya menyebrangi sungai ini, ia takut kalau nanti bekuan air sungai yang dipijaknya akan jebol dan ia terperosok ke dalamnya lalu hanyut terbawa serasnya sungai. Akhirnya ia memutuskan mencari pertolongan. Tak lama kemudian ia mendengar derap kaki kuda, sontak gembira ketika dari kejauhan ia mulai melihat tiga orang penunggang kuda. Dengan penuh harap, pak tua menatap mata ketiga orang itu, tapi ketiga orang itu tak perduli dengan dia dan malah melewatinya.

Beberapa lama kemudian ia kembali mendengar derap kaki kuda, tapi kali ini hanya satu kuda, akhirnya ia dapat memandang wajah penunggangnya mereka pun bertemu pandang. Pak Tua  memberanikan diri untuk menyapa “Tuan sudikah tuan untuk membantu saya menyeberangi sungai es yang deras itu ?” sang penunggang kuda pun menyambut dengan baik dan mau menolong. Tiba di seberang sungai pak tua itu minta untuk diturunkan, tapi sang penunggang kuda tak mengizinkan “daerah ini masih diliputi salju, akan sangat dingin dan terlalu berbahaya untuk orang setua anda, biarlah saya antar sampai tujuan,” Pak Tua pun tidak bisa menolaknya, akhirnya mereka pun sampai di tujuan, Pak Tua mengucap beribu terima kasih. Ketika hendak pergi sang penunggang kuda itu sontak bertanya, “Pak Tua, kalau tak salah didepan saya ada tiga penunggang kuda yang lebih dahulu menyeberangi sungai, lalu mengapa anda tidak meminta tolong pada mereka? Pak Tua menggelengkan kepalanya lalu menjawab “Betul tuan, tapi aku menatap mata mereka dan tak ada belas. Kasihan disana, sepertinya mereka bukan jenis orang yang peduli dengan sesamanya. “Berbeda dengan tuan, aku bisa menemukan sinar kebaikan dan belas kasih memancar dari mata tuan,”lanjut pak tua. “Oh.. terima kasih , ini pelajaran pelajaran berharga buat saya , saya akan belajar mengasihi sesama, “ lanjut penunggang kuda seraya melambaikan tangan dan memacu kudanya berlalu.

Penunggang kuda dalam kisah di atas adalah Thomas Jefferson , presiden Amerika Serikat yang ketiga. Ia kembali ke gedung putih dan membawa satu pelajaran berarti; “peduli dengan yang menderita untuk mengasihi sesama.”

Tidak ada pertentangan antara mengasihi Allah dan mengasihi sesama. Jika kita semakin mengasihi Allah, maka kita juga akan semakin mengasihi sesama. Jika kita melayani Allah dengan begitu rupa, maka dengan penuh kesadaran dan rasa tanggung jawab kita akan melayani sesama kita lebih lagi. Jika prinsip mengasihi sesama ini diterapkan, maka dunia akan melihat Kristus di dalam diri kita. Sebab dunia hanya bisa mengenal Kristus melalui tindakan kasih dan kebaikan kita kepada sesama. Sudahkah kita menjadi orang Kristen yang tidak hanya mengasihi Tuhan, tapi juga mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri?

Tuhan Yesus memberkati
by Pdt. Ria Susanti

 

Related Posts