Home e-Warta Renungan Sepekan (read more…)

Renungan Sepekan (read more…)

by Alvin

“Ujian Kesaksian”

Ada seorang muda yang berpotensi sedang menjalani masa probation di tempat bekerjanya yang baru. Ia diterima untuk satu posisi sebagai pemimpin di level menengah. Ia seorang Kristen yang dikenal di tempat kerjanya karena giat bekerja, selalu menghormati orang lain, suka bekerja sama, dan tidak turut dalam pembicaraan dan candaan yang tidak pantas yang selalu menjadi bumbu saat mereka bekerja dan berbincang.

Namun ia bergumul karena bagian dari tugasnya di jabatan itu adalah membuat laporan penjualan yang sudah diakali untuk menyesuaikan dengan rencana pembayaran pajak perusahaan, yang tentu lebih rendah dari aslinya. Ia bergumul, tidak damai sejahtera, tapi seperti tidak punya pilihan. Ia menjalani sambil terus berdoa supaya bisa terhindar dari tugas tersebut. Tak disangka, 2 bulan kemudian ia mendapatkan penugasan ke cabang lain dari perusahaan tersebut dan sekalipun di jabatan yang sama ia tidak perlu membuat laporan penjualan yang tidak jujur. Ia bersyukur pada Tuhan dan melihat itu sebagai intervensi ilahi.

Ada kisah orang muda lainnya, yang diterima bekerja sebagai staf sebagai pekerjaan pertamanya. Ia juga seorang Kristen yang mau menjadi saksi di tempat kerjanya. Tugas pertama yang diberikan bosnya di hari pertamanya bekerja adalah untuk menerima telpon dan jika panggilan itu ditujukan bagi beliau ia musti menjawab bahwa beliau tidak di tempat. Ia bergumul, berdoa, berharap tidak ada panggilan telepon. Tiba-tiba telpon berdering, ia kaget, terdiam dan takut. Karena telpon terus berdering, bosnya keluar dari ruangan dengan marah dan menghardiknya untuk segera mengangkat telpon. Akhirnya anak muda ini berdiri, mengangkat telponnya dan tanpa berkata apapun ia meletakkan kembali gagang telponnya. Tentu bosnya marah besar melihat itu. Namun ia menjelaskan bahwa ia mau hidup jujur dan bersedia diberi tugas apapun selama tidak mencurangi kebenaran. Sejak hari itu justru ia diberi tugas-tugas yang membutuhkan kepercayaan tinggi dari bosnya.

Kita belajar dari tema tahunan kita sejauh ini bahwa Allah menjadikan kita saksi-Nya. Apakah itu berarti bahwa Ia akan menghindarkan segala kesulitan dan tantangan sebagai bukti penyertaan-Nya dan bisa menjadi kesaksian akan kuasa dan keterlibatan-Nya? Bagaimana jika Ia justru seperti meninggalkan kita di persimpangan antara yang benar dan yang seakan aman bagi kelangsungan hidup dan karir kita? Tempatkanlah dirimu dalam kisah kedua orang muda tadi, dan refleksikanlah apa yang mungkin menjadi responmu.

by Ev. Johan A. Santoso

Related Posts